Diberdayakan oleh Blogger.

Spirit Pasien yang Sembuh Covid-19, Optimis Indonesia Pasti Sembuh

by - Mei 18, 2020


Sejak terkonfirmasi dua pasien Positif Covid-19 pertama kalinya di Jakarta, Pemerintah Kota Semarang sudah melakukan berbagai upaya agar Corona ini nggak merajalela di Semarang. Salah satunya dengan membuat rumah isolasi di Rumah Dinas Wali Kota. Rumah isolasi ini untuk merawat ODP, PDP dan pasien positif. Alhamdulilah aku punya prevelage untuk mengikuti sejak perencanaan pembuatan rumah isolasu itu, sampai dengan pembangunan, hingga selesai dan ada penghuninya.

Kapan hari gitu, aku pernah bikin story di Instagram sedang melakukan senam bersama para pasien yang ada di Rumah Isolasi Rumdin.  Nggak nyangka respon dari story itu ternyata banyak banget dan beragam. Sampe abang kandung sendiri langsung telpon karena kawatir. Emang nggak takut sul? ya manusiawi, pasti takut. Awalnya aja, waktu pertama-pertama ke Rumah Isolasi Rumdin. Steelah yakin kalau proses sterilisasi di sana aman, yaudah nggak perlu kawatir.  
Dalam story itu aku pengen ngajak orang-orang untuk tidak menjauhi ODP, PDP ataupun pasien positif Covid-19. Mereka butuh dukungan kita untuk bertahan dan segera sembuh. Salah satu faktor yang mempercepat proses kesembuhan mereka adalah dengan memperkuat imun tubuh, sedangkan imun didapat selain dari pola hidup sehat dan asupan makanan yang bergizi seimbang juga hati yang gembira. Kekhawatiran mereka akan Stigma masyarakat bisa jadi mempengaruhi tingkat stres mereka dan itu akan menurunkan imunnya.   

Banyak diantara mereka takut menghadapi stigma
Aku sudah pernah ngobrol dengan lima pasien positif yang tinggal di Rumah Isolasi. Dua diantaranya adalah tenaga medis yang kemungkinan tertular dari pasien yang ditanganinya. Kita ngobrol banyak hal termasuk bagaimana mereka bisa tertular virus tersebut dan bagaimana mereka bertahan juga berjuang sembuh. Setelah sembuh inipun mereka masih khawatir, takut diketahui masyarakat sekitar tempat tinggalnya jika permah menjadi pasien positif Covid-19 dan akan ditolak kembali ke lingkungannya. 

Satu yang optimis banget, bu Caroline namanya. Bahkan sangat berbesar hati dan terbuka dengan beberapa media yang ingin mewawancarainya sebagai salah satu perwakilan dari pasien sembuh di Rumah Isolasi. Beliau dengan positif memberikan pengertian bahwa menjadi pasien positif Covid-19 nggak semenakutkan yang diberitakan. Jangan men-stigma mereka karena akan membuat orang-orang yang merasakan gejala mengarah Covid jadi takut memeriksakan dirinya karena akan dijauhi dan ditolak lingkungannya. 

Ibu Caroline juga secara optimis memberikan semagat kepada para pasien yang masih berjuang sembuh. Harus optimis dan yakin pasti sembuh, tuturnya. Optimisme bu Caroline itu jadi mengingatkan saya pada orang yang ku kenal, seorang motifator besar, bapak Kafi Kurnia. Beliau adalah pemerkasa sebuah platform digital yang diberi nama “SEMBUTOPIA"  @sembutopia . Sebuah ide sederhana untuk memotivasi dan menginspirasi Indonesia agar kita bersama-sama menciptakan sebuah lingkungan yang lebih sehat dan terbebaskan dari semua penyakit dan konflik baik secara kejiwaan dan keragaan. Jadi concern Sembutopia ini memang untuk menyembuhkan Indonesia dari segala macam penyakit baik itu penyakit jiwa atau raga. Apalagi dalam musim corona seperti ini, semua orang butuh bebas dari penyakit.

Indonesia Indah Tanpa Stigma
Ditengah wabah Covid-19 ini, muncul satu fenomena sosial yang berpotensi memperparah situasi, yaitu stigma sosial. Sebagai penyakit baru, banyak yang belum ditehui tentang pandemi Covid-19. Terlebih manusia cenderung takut pada sesuatu yang belum diketahui dan lebih mudah menghubungkan rasa takut tersebut pada kelompok " yang berbeda ini ". Kayaknya itu menjadi salah satu penyebab kenapa muncul stigma sosial dan diskriminasi kepada orang-orang yang memiliki hubungan dengan Covid-19 bahkan sampai terjadi penolakan jenazah segala. 

Perasaan bingung, cemas dan takut yang dirasakan bisa dipahami, tapi bukan berarti boleh berprasangka buruk pada penderita, perawat, keluarga ataupun mereka yang tidak sakit tapi menunjukan gejala mirip covid seperti batuk-batuk misalnya. Kalau fenomena ini terus dipelihara di masyarakat, stigma dapat membuat orang-orang menyembunyikan sakitnya biar nggak didiskriminasi.

Daripada menunjukan stigma sosial, alangkah lebih baiknya kalau kita berkontribusi secara sosial dengan
1. Membangun rasa percaya pada pemerintah dan layanan kesehatan yang bisa diandalkan

2. Menunjukan empati terhadap mereka yang terdampak
3. Memahami Covid-19 itu sendiri dan bagaimana penularannya agar tidak terlalu berlebihan menghadapi 
4. Melakukan upaya 

Rumah Isolasi Jadi Salah Satu Solusi Percepatan Penanganan Covid-19 di Semarang


Gambar ini cukup menjelaskan bagaimana alur penerimaan pasien di Rumah Isolasi ya. Jadi harus rujukan dari rumah sakit atau Ambulan Hebat. Bagi yang tidak tahu, Ambulan Hebat merupakan ambulan gratis dari Pemkot Semarang untuk penanganan kegawat daruratan dibawah kewenangan Dinas Kesehatan. 

Rumah Isolasi ini menyunbang peran yang cukup penting dalam percepatan penanganan Covid-19 di Semarang. Banyak pasien baik itu ODP, PDP dan positif Covid tanpa gejala sembuh setelah dirawat di sana. Pasien hanya fokus untuk sembuh karena segala keperluan sudah disediakan termasuk makan 3x sehari seusai dengan kebutuhan masing-masing pasien, pelayanan Laundry untuk pasien infeksius dari RSUD, petugas medis yang stanby 24 jam dan fasilitas penunjang lainnya. 

ODP, PDP dan pasien positif ini nggak digabung ya tempatnya. Masing-masing terpisah terutama pasien positif yang ditempatkan bagian dalam rumdin dalam ruangan isolasi, sementara ODP dan PDP di aula rumdin yang dibikin jadi bangsal rumah sakit.

Saat ini, tren kasus yang ada di Semarang makin melandai. Pasien positif baru sudah tidak ada sejak minggu lalu. Jumlah PDP juga turun, walaupun ada kenaikan angka ODP gara-gara masih ada sekelompok orang yang masih nekat mudik kemaren saat bandara kembali lagi di buka. Bagi para pembandel yang masih melakukan perjalanan ke Semarang, Dinkes sudah menyiapkan tenda karantina yang di lapangan rumdin pula.

Meskipun grafik kasusnya sudah mulai melandai, tetap lakukan pencegahan dengan selalu menerapkan hidup bersih dan sehat ya gaes. Gunakan masker ke manapun pergi saat ini, jangan lupa juga rajin cuci tangan setelah melakukan aktifitas di luar. Tetap jaga kesehatan dengan rutin olahraga dan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang. Salah satu yang paling direkomendasikan ya perbanyak makan buah dan sayur. Apalagi saat bulan puasa seperti ini. Usahakan untuk selalu ada buah saat buka dan sahurnya. 

You May Also Like

0 komentar