Diberdayakan oleh Blogger.

Biar Nggak Panik Ngadepin Covid-19 Gimana?

by - Maret 27, 2020


Hai semua, apa kabar hari ini? Situasi akhir-akhir ini sepertinya membuat semua sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Bener? Bumi akhir-akhir ini entah sedang sakit atau justru sedang istirahat. Kalau dari kesibukannya mungkin Bumi sedang istirahat, hanya penghuninya yang sakit. 

Gila sih, wabah Covid-19 ini ternyata seluar biasa ini efeknya. Dan ternyata menggegerkan sampai Indonesia bahkan sampai kota dimana gue tinggal saat ini, Semarang. Jujur awal kemunculan wabah ini gue masih santai dan berfikiran kalau nggak akan sampai Indonesia. Bahkan kemaren masih sempet mlancong ke Pulau lain buat jalan-jalan. Tapi, hari ini di Kota gue sendiri bahkan sudah ada korban meninggal. Kesantaian itu kemudian ambyaarrr!

Gue ngikutin sendiri bagaimana pemerintah dalam hal ini Kota Semarang sudah bergerak untuk pencegahan sampai pada penanggulangan jika memang nanti masuk ke Semarang. Januari emang terdengar belum ada pergerakan apa-apa dari pemerintah, tapi asal tau aja sejak awal tahun pemerintah sudah siaga dengan menyiapkan tim-tim khusus yang memantau Bandara dan Pelabuhan. 

Soal protes warga Semarang kenapa Pemkot mengijinkan Kapal Pesiar Columbus sandar di Kota Semarang padahal di Surabaya dan kota lainnya udah ditolak, kita nggak bisa menghakimi ini sebagai suatu kesalahan besar yang harus ditanggung pemerintah Kota Semarang. Gue nggak bisa cerita di sini kenapa alasannya, tapi penerimaan kapal pesiar tersebut insyallah tidak menjadi gerbang pembawa Covid-19 ke kota ini. Kasus Positif Covid-19 pertama di Kota Semarang dibawa oleh seseorang setelah bepergian dari Bali, bukan karena bawaan turis dalam Kapal Pesiar Colombus tersebut.

Sekarang, sampai pada gue ngetik tulisan ini Hari Senin 6 April Pukul 17.25 WIB sudah ada sekian yang tercatat pada sistem pemantauan kasus Covid-19 di Kota Semarang


Sudah sebanyak itu bahkan ada kasus meninggal satu. Gue menyaksikan sendiri bagaimana pak Wali secara tegas memberikan arahan kepada seluruh kepala Dinas nya untuk bergerak bersama semuanya melindungi masyarakat dengan tupoksi masing-masing Dinas. Bu Wakil Walikota yang memimpin tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 di Kota Semarangg ini setiap hari rapat dan update perkembangan kasus dan upaya solusinya. 
Pemerintah panik, jujur saja dengan angka yang terus bertambah. Tapi itu tidak boleh terlihat oleh masyarakat. Yang bisa dilakukan terus bekerja dan berupaya bagaimana jumlahnya tidak bertambah dan meredam kepanikan warga. 

1. Jangan Kawatir Soal Masker dan Hand Sanitizer
Ini adalah kehebohan pertama yang muncul sejak merebaknya Covid-19. Orang heboh nyari masker dan hand sanitizer sampai harga melambung 20x lipat. Dimengerti kenapa orang ramai mencari barang tersebut. Tapi, tolong pahami bahwa masker ini untuk mereka yang sakit atau dalam kondisi tidak sehat. hand sanitizer ini hanya untuk mereka yang banyak kegiatan di luar yang nggak memungkinkan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir. 

Jadi yang sehat nggak perlu banget pakai masker, plis. Utamakan untuk yang sakit dan tenaga kesehatan yang merawat orang sakit in case pasien covid-19 dan petugas yang merawatnya. Kita yang masih sehat kurangi penggunaan masker dan usahakan cuci tangannya pakai sabun dan air aja karena justru ini yang lebih efektif dan disarankan.

Kalau masih kawatir, ya balik lagi ke titah pemerintah untuk sementara waktu stay di rumah aja. Kalau memang terpaksanya pergi ke luar rumah tanpa masker, hindari kerumunan dan jaga jarak dengan orang. Kurang-kurangi menyentuh banyak benda saat di luar dan menyentuh wajah. Udah pada paham kan yang ini? sudah diaplikasikan setiap harinya belum? 

2. Jangan Sibuk Nyari Data Pemetaan
ODP dan PDP

Iya memang di beberapa kota ada yang sampai mem-breakdown masing-masing wilayah bahkan detail per kecamatan sampai dengan Puskesmasnya. Pada awalnya pemkot sempat melakukan hal yang sama, namun pada akhirnya malah semakin menimbulkan keresahan. Alasan pemerintah tidak mengeluarkan data itu untuk tetap menjaga stabilitas suatu wilayah dengan jumlah ODP palingg banyak. Pemerintah Semarang berusaha meredam kekhawatiran masyarakat jika nama daerahnya yang muncul sebagai wilayah dengan ODP paling banyak. Juga mengurangii stigma tertentu terhadap wilayah ataupun penghuninya.

Aturannya jelas, kita diminta untuk stay di rumah dan menjaga jarak dengan orang. Menjaga diri Nggak peduli kita tinggal di wilayah mana apakah banyak ODP atau tidak. Toh ODP ini diawasi ketat sama tim pemantaun dari Pemerintah kok. Nggak perlu takut, mereka masih ODP. Kalau masih ragu-ragu ya sekali lagi kurangi berinteraksi dan keluar rumah.

Jadi plis, nggak usah sibuk ngu-push untuk membuka pemetaan ini. Pemerintah punya alasan sendiri kenapa tetap dijaga seperti ini. Gunakan waktu dan energi untuk hal lainnya yang lebih bermanfaat. Bikin racikan disinfektan atau hand sanitizer mungkin. he

3. Stop Sebar Info atau nyari tahu kebenaran atas nama-nama pasien yang Tersebar di WAG
Ini kurang kerjaan banget shaayy! Gue gedeg juga sama orang-orang yang entah dengan motivasi apa bikin kabar ngga jelas gitu segala nyantumin nama dan alamat pasiennya yang diduga PDP. Padahal gue sempat pegang datanya sendiri nama orang itu nggak ada di data. Bahkan ada yang terbaru nama seorang perawat disebutkan dengan jelas identitasnya detail bahwa dia jadi PDP setelah merawat PDP lainnya dan disebutkan pula identitasnya. Ini ngawur banget sumpah.

Jadi stop, nggak usah buang waktu nyari tau kebenaran dari info macam itu. Misal kita kenal dengan nama yang disebut, doakan saja semoga hasilnya negatif atau segera sembuh. Stop di kita nggak udah ditanyakan lagi ke sodara tentangga atau malah grup WA lainnya. Justru semakin loe nyari tahu tentang info-info ini malah bikin semakin panik. 

Tugas kami mensosialisasikan tentang Covid-19 dan pencegahannya ini makin berat kalau masih ditambah harus meng-counter berita-berita HOAX yang selalu muncul. Tolong bantu kami dan peringan tugas kami dengan tidak meneruskan pesan-pesan tentang data pasien di WAG. Terlepas itu benar atau enggak, cukup berenti di kita jangan teruskan lagi. 

4. Ikuti Anjuran Pemerintah untuk Physical Distancing atau #Dirumahaja
Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini selain nurut dengan himbauan pemerintah. Nggak susah woy cuman diem diri di rumah. loe hanya butuh beberapa aktifitas di rumah aja biar ngga bosen. Sesederhana itu kontribusi loe saat ini yang dibutuhkan negara tapi besar manfaatnya.  

Di kota Semarang sendiri, gue mengamati masih banyak yang nggak sadar ini  karena masih banyak yang dengan PEDE nya nongkrong dan jalan-jalan. padahal mereka anak-anak milenial yang ngerti himbauan ini. Mau nyari apa sih? ya paham loe masih muda, masih sehat dan punya imun yang bagus. Jadi kalau misal loe terpapar Covid-19 ini nggak akan kenapa-kenapa dan timbul gejala. Tapi kalau loe abis jalan-jalan diluar dan bawa virus itu ke rumah kena orang tua loe, bisa apa? Jangan sok gagah dan egois ya. 

PR pemerintah ada di perkampungan dan warga yang sudah berumur dan nggak megakses sosial media. Tapi toh, sekarang  sudah dikerahkan juga pak polisi babinkamtibmas juga petugas-petugas puskesmas yang sosialisasi sampai ke kampung-kampung dengan membawa toa muter-muter. Semua kegiatan mohon ditiadakan dulu sementara waktu sampai ini semuau mereda. 

5. Stop nyari tahu berlebihan tentang Covid-19 di Internet ataupun Sosmed
Ini sebenernya dilematis sih. Gue paham sosial media dan internet bisa jadi satu-satunya hiburan kala diem di rumah aja seperti sekarang. Juga kita butuh update tentang perkembangan Covid-19 ini. Tapi plis, semakin banyak kita mengakses infirmasi tentang covid-19 jadi semakin membuat kita insecure karena dari sumber A bilang harus begini, sementara sumber B bilang nggak boleh begitu, sumber C dan lainnya menganjurkan begini begitu. Pushing shaayy! Pilih sumbeer yang menurut loe terpercaya aja, satu atau dua dan ikuti. Udah nggak usah nyari sumber lain. Akan lebih baik kalo loe update beritanya dari situs pemerimtah, seperti website kemenkes atau http://siagacorona.semarangkota.go.id/ untuk Semarang.

Kurangi juga mengakses sosial media. Dari awal, sosmed emang toxid buat mereka yang nggak bisa bijak menggunakannya. Pun misal masih mau mengakses Sosmed ya pilih info yang menarik aja, buat hiburan biar tetep waras. 

6. Hadapi dengan Tenang dan tetap jaga kesehatan dengan Rajin Makan Buah


Sekali lagi nggak usah takut berlebihan. Virus ini sebenernya nggak begitu bahaya jika tidak ada penyakit penyerta yang makin memperburuk kondisi orang yang terpapar. Hanya karena emang penyebarannya yang begitu mudah dan masiv, jadi banyak korban yang berjatuhan. Pencegahannya pun sudah jelas ada dimana-mana sudah diinformasikan. Cukup nurut dengan hiimbauan pemerintah dan melakukan pemcegahan secara mandiri. Kepanikan masyarakat saat ini justru memperkeruh keadaan. Percayakan bahwa pemerintah bisa mengatasi ini dengan baik. Tapi pemerintah nggak bisa bekerja sendirian kan, nah kita butuh bantuan semua masyarakat untuk bergerak bersama lawan Corona.

Tetap jaga kesehatan diri dan keluarga di rumah. Sementara semua masak sendiri dulu aja, yang lebih sehat. Perbanyak sayur dan buah jiuga air putih. Jika perlu konsumsi vitamin juga, tapi jangan setiap hari kalau nafsu makan masih baik-baik aja.


Jaga kesehatan aja nggak cukup kalau kalian tetap jalan ke mana-mana. Jadi, batasi aktifitas dan benar-benar jangan keluar rumah jika tidak mendesak. Sementara ini biarkan kita dulu yang masih bekerja, bantu kami yang tetap bekerja dengan penuh resiko untuk kalian semua biar kalian semua tetap aman dan nyaman tinggal di Semarang.  

You May Also Like

2 komentar

  1. Banyak pesan yang misinformasi beredar di masyarakat membuat masyarakat menjadi semakin panik. Ketika seseorang panik berlebihan, maka daya tahan tubuhnya akan mengalami penurunan dan akhirnya mudah terserang penyakit.
    Jadi sekali lagi, jangan menyebarkan berita dan informasi yang tidak benar/hoaks.

    Semangat sul untuk selalu mengedukasi masyarakat untuk sadar akan kesehatan.

    BalasHapus