Diberdayakan oleh Blogger.

Nggak Butuh Alasan Untuk Mencitai Sesuatu

by - Juli 07, 2019


Setelah hampir dua bulan ini nggak nyetuh blog dan terakhir nulis karena bener-bener kangen. Terus juga pengen  pamer rencana akhir tahun yang mau ke Bali Rencana Liburan Ke AYANA Bali akhirnya bisa nulis lancar ala Catatan Isul lagi. 

-OIa, mulai sekarang kayaknya aku bakal membiasakan diri dengan menyebut diri sebagai "aku" bukan "gue" lagi di Blog ini - 

Alasan aku jadi jarang ngeblog sekarang-sekarang ini jujur aja karena males. Tentu saja malas itu aalsan kesekian dari alasan-alasan lainnya. Seperti karena sibuk bekerja, mungkin. Kerjaan ku juga nggak jauh-jauh dari nulis, jadi semacam jenuh mungkin. Iya kayaknya aku jenuh dengan menulis. Nggak dosa kan? orang yang saling mencintai aja punya rasa jenuh kok. Iya to? Kok langsung ngegas soal saling mencintai ya cuy. Emang bawaanya dari judul lagi pengen bahas soal cinta-cintaan keknya. 

Jadi gini, kalau ada yang nanya kenapa kamu cinta sama dia kemudian kamu dengan lancar menjelaskan karena dia bla bla bla dan bla, berarti kamu nggak bener-bener secinta itu. Mungkin hanya jatuh hati, kagum atau semacamnya. Sebaliknya juga ya cuy, kalau ada yang bilang cinta mati sama kamu, tanya balik "kenapa?" 

Kalau dia lancar nyebutin satu persatu alasan dia cinta sama kamu, bulshit. Itu bukan cinta tapi pasti napsu. Terserah mau diartikan apa napsu itu, tapi intinya dia nggak secinta itu.  Cinta itu nggak butuh alasan cuy karena ketika alesan itu ilang cintanya juga akan ilang. Eaaaa, sok-sokan ngasih tahu soal cinta sendirinya belum nemu-nemu cintanya. haha

Oke lets say itu cinta kepada manusia lah ya. Sekarang aku mau cerita dikit tentang cinta terhadap "sesuatu". Jadi aku ada temen yang cinta banget sama kota Semarang, kota aku lahir dan dibesarkan sementara dia sendiri kenal Semarang baru beberapa tahun terakhir ini. Tapi dia begitu mencintai Semarang cuy, aku juga heran kenapa dia secinta itu melebihi cinta kepada lawan jenisnya.

Ini beneran cinta sih karena tiap kali ku tanya " kenapa sih seserius itu mikirin perkembangan kota ini? " jawaban dia selalu konsisten " Nggak tahu, seneng aja sama kota ini. Pengen kalau Semarang bisa sebesar kota Surabaya atau Jakarta." dan cintanya dia nggak cuman cinta biasa. Banyak upaya dia yang sudah dikerjakan untuk membuat 'Semarang semakin besar' dengan caranya. Walaupun hasilnya sendiri nggak berdampak dan mungkin merugikan dia. Tapi dia tetep gigih tinggal di sini dan mewujudkan cita-citanya membuat Semarang menjadi besar dari sudut pandang dia.

Gelaran Semarang Night Carnival kemaren, kita bertemu. Kebetulan dia emang konten kretator dan konten dia selalu tentang kota Semarang tentunya. Jadi hampir di semua event Semarang, mostly dia selalu ada. Hebatnya dia selalu datang meskipun dia nggak dapat apa-apa. Maksutnya semacam uang transport gitu atau uang capek atau uang liputan. 

Kita sempet diskusi kemaren soal gelaran SNC ( Semarang Night Carnival ) dan kreator-kretaor yang biasa terlibat dalam gelaran itu tiap tahunnya. Aku tahu dia memendam kecewa kenapa nggak diundang sebagai 'peliput' padahal dia tiap tahun datang dan konsisten selalu bikin konten tentang Semarang. Sementara kemaren kita papasan sama temen-temen sejawad yang secara official diundang untuk meliput. 

Kamu tahu nggak rasanya? semacam, kamu udah pacaran lima tahun lebih udah berkorbann banyak banget tapi tternyata dia nikahnya nggak sama kamu. Dan kamunya datang ke acara nikahan dia terus ketemu bertiga. Kira-kira seperti itu kalau aku mau lebay menggambarkan gimana perasaan dia malam itu. 

Tapi hebantnya, dia ya tetep aja nggak putus semangat bikin konten tentang SNC dan terus membuat konten tentang kota yang sangat dicintainya ini. Dia nggak punya alasan untuk meninggalkan Semarang sama halnya dia nggak punya alasan kenapa dia mencintai Semarang. Menurut ku, itulah definisi cinta yang sesunggguhnya.

Ada dua hal yang aku pelajari pada malam itu.
1. Cinta itu nggak membutuhkan alasan
2. Kamu butuh banyak alasan untuk mendekati seseoarng demi mendapatkan sesuatu dari seseorang itu.









You May Also Like

1 komentar

  1. Beberapa hal yang aku resapi dari cerita kak isul kali ini, yang pertama menjadi seorang profesional dibidangnya itu ternyata pasti tetep ngerasain jenuh juga ya, terus soal ketulusan cinta yang tak butuh alasan nih setuju banget sih aku mah

    BalasHapus