Diberdayakan oleh Blogger.

Menerima dan Memaafkan Adalah Kunci Ketenangan Hati

by - April 10, 2019


Setiap orang pasti pernah menyakiti dan disakiti. Pernah mengecewakan dan dikecewakan. Apapun itu, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Macam-macam karakter orang diciptakan, banyak orang unik yang membuat dunia jadi nggak ngebosenin. Orang unik yang gue maksut di sini lebih pada manusia-manusia yang nggak sadar tentang hukum alam " apa yang loe tanam itu yang loe tuai". Jadi jangan merasa kalo loe aja di dunia ini yang tersakiti, karena sebelumnya loe pasti pernah menyakiti. Hukum alam itu nggak mitos sahabat, meraka nyata adanya. 

Sebelum ini, gue ada rasa nggak nyaman banget sama temen yang lumayan deket karena dulu lumayan sering ngerjain project bareng. Karena ada sesuatu hal, gue jadi ilang respect sama dia. Udah sempet diobrolin bareng karena gue masih sangat menghargai dia, tapi hasil dari obrolan itu nihil. Kita sama-sama nggak berubah atau mungkin nggak mau merubah.

Pengalaman rasa nggak nyaman itu gue pendem terus dalam beberapa bulan. Gue jadi fake banget sama dia kalo ketemu, males nyapa tapi nggak nyapa kok nggak pantes. Hubungan kita waktu itu udah ancur banget, gue juga tahu dia udah nggak nyaman banget sama gue. Cuman ada beberapa ikatan pekerjaan yang mengharuskan kita tetep bareng dulu beberapa waktu. Jadi hubungan yang kita jalani waktu itu berasa banget dipaksa. 

Sampai akhirnya gue mutusin buat fokus sama pekerjaan gue yang sekarang, jadi ngurangin kerjaan bareng dia dan akhirnya jadi jarang ketemu juga. Sambil gue sibuk ngerjain kerjaan baru gue, ternyata baru-baru ini gue sadar rasa nggak nyaman dan  nggak suka sama dia jadi pelan-pelan ilang.

Kok tahu sul kalo udah ilang rasanya? ya rasa gondok dan kesel saat harus ngobrol sama dia itu udah nggak ada. Terakhir kali ketemu dan ngobrol sama dia, gue udah biasa aja rasanya. Nggak merasa berat, terpaksa, dipaksa atau kesel dan marah ilang semua. Rasanya datar, biasa aja. Seneng enggak, benci juga enggak. 

Setelah beberapa hari ini gue pikir, gue sadar bahwa hal paling mudah dalam menemukan ketenangan hati adalah menerima dan memaafkan. Karena setelah gue berusaha menerima dan mengerti kenapa dia seperti itu dan kenapa gue juga jadi begitu kemudian gue berusaha juga untuk memaafkan semuanya, jadi terasa lebih ringan.

Menerima di sini juga menerima kesalahan dan keburukan kita ya, jadi intropeksi diri juga. Balik lagi dengan hukum alam tadi, ketika loe merasa dikecewakan berati ada orang lain juga yang udah loe kecewain. Jadi nggak nyalahin orang muluk. 

Bagaimana proses menerima dan memaafkan itu, dari pengalmaan gue yang harus dipahami adalah kodrat manusia yang nggak sempurna. Punya kekurangan, bisa melakukan kesalahan bahkan sering dan nggak bisa hidup sendirian. Apapun kesalahannya, angap dia punya alasan untuk kesalahan itu. Akan lebih bagus jika bisa dikomunikasikan kenapa loe nggak suka dan cari solusi gimana biar sama-sama tetep enak berhubungan tanpa saling nuntut untuk berubah karena yang punya hak buat nuntut loe cuman orang tua dan jaksa. 

Kalau kasusnya gue, komunikasi kita mentah. Jadi, yaudah terima aja dia emang gitu, hanya menerima dan batasi interaksi dengannya. 


You May Also Like

0 komentar