Diberdayakan oleh Blogger.

Terimaksih Karena Telah Mengingatkan Kembali Sakitnya Patah Hati

by - Desember 08, 2018


Gue lupa kapan terakhir kali ngrasain patah hati. Kalau loe gimana? masih ingatkah, atau malah sekarang sedang patah hati? Atau, nggak pernah patah hati sama sekali? mungkin nggak sih ada orang yang nggak pernah ngrasain patah hati. 

Satu hal yang gue tahu patah hati itu harus ngrasain jatuh hati dulu. Bener gitu? Nah yang gue rasain sekarang ini, gue belum sempat jatuh hati tapi udah patah hati. Macam udah jadi mantan padal belum jadian. Pernah kayak gitu? Gue pernah juga soalnya. *ngeek

Patah hati yang gue rasa sekarang bukan jenis patah hati karena cinta sepihak dan semacamnya. Lebih kepada patah hati karena mungkin harapan gue terlalu tinggi tentang suatu hal. Terlalu tinggi kepada dia yang gue percaya bisa berubah setelah kita ngobrol panjang tentang apa yang masing-masing membuat kita nggak nyaman melannjutkan hubungan itu.

Kalau loe pikir ini semacam hubungan laki-laki dan perempuan layaknya pacaran gitu, mohon maaf itu akan bikin loe kecewa. Isul still single kok, dan patah hati ini sekali lagi bukan patah  hati karena hubungan percintaan laki dan perempuan. 

Gue sedang dalam suatu hubungan yang sudah nggak terlalu nyaman untuk terus dilanjutkan. Gue nggak tahu sejak kapan nggak nyaman itu muncul. Yang gue ingat pada suatu waktu kita berdebat tentang perbedaan pandangan tentang suatu masalah. Menurut dia itu biasa saja, tapi gue enggak. Mungkin kalau dia ngasih tahu diawal apa alasan dia seperti itu, gue bisa menerima walaupun menurut gue sikap dia sudah berlebihan. 

Tapi, dia jelasin alasanya setelah gue tahu dan merasa dibohongi sejak awal. Itu bener-bener mengecewakan. Tapi pada tahap itu, gue belum patah hati. Gue masih percaya dia nggak seburuk perkiraan gue sejak gue tahu dia ternyata nggak jujur tentang suatu hal yang tadi bikin gue kecewa.

Waktu terus berjalan, dan kita masih bertahan bahkan sampai sekarang. Tapi malam ini, saat gue nulis ini gue nggak tahu dia udah anggap gue sebagai apa. Yang pasti, sejak kejadian mengecewakan itu gue sudah mulai kehilangan respek sama dia. Tapi belum banyak, masih terus gue pupuk respek itu supaya tumbuh seperti semula kita membangun hubungan itu.

Tapi entah, gue lupa waktu itu hal apa yang terakhir membuat hubungan kita merenggang lagi. Sampai akhirnya gue minta untuk ketemu berdua. Ngobrol dari A sampai Z. Gue obrolin semua apa yang membuat gue jadi hilang kepercayaan sama dia, kenapa mungkin gue dingin sama  dia, apa yang membuat gue jadi nggak suka sama sikapnya saat bekerjasama. Semua kita obrolin, dan gue berharap pada saat itu dia bener-bener jujur dengan apa yang diucapkan.

Gue juga menerima masukan dan saran dia tentang gue seharusnya bersikap speerti apa. No Swing Mood Again. Yap, salah satu hal yang sulit banget gue kontrol adalah mood gue yang ketika nggak baik biasanya berimbas pada orang sekitar. Tapi nggak parah sih, cuman sebatas diem dan nggak banyak omong. 

Tapi emang dasarnya gue manusia yang doyan ngomong dan kebanyakan polah. Sekalinya lagi nggak mood akan langsung ketahuan karena perbedaanya jomplang banget. Diem dan muka bete banget. Pasti jadi pertanyaan. " Loe kenapa Sul?"

Dan dia katanya lelah berusaha mengerti tentang mood gue yang seperti itu. Dia mau balik dimengerti. Oke, gue berusaha mengerti dia. Berusaha untuk menjaga mood di depan dia. Tapi ternyata gue gagal, karena sikap dia juga yang bikin mood gue buruk. 

Menurut gue, seharusnya kalau dia menuntut gue untuk memperbaiki sikap ketika nggak mood itu,  diimbangi dengan cara dia juga untuk bersikap seperti apa yang nggak membuat mood gue jadi buruk. Seperti ini, egois nggak?

Pada titik gue jenuh harus berusaha baik-baik saja ketika bertemu dengan dia dan harus menyapa. Mungkin dia nggak tahu bahwa setiap kali gue akan ketemu, gue harus ngumpulin mood yang sangat baik kualitas super biar sikap gue terlihat baik-baik saja. Gue berusaha menyapa seolah semuanya baik-baik saja. Tapi, sering kali juga mood yang udah gue bangun dengan bagusnya itu kembali dihancurkan lagi dengan sikap dia.

Dalam kerjasama, komunikasi jadi yang utama ye kan. Yang gue rasain belakangan ini, gue jadi minim info tentang apa yang sedang dikerjain. Harus gue tanya dulu baru diinfo. Pola komunikasi yang kayak gitu masih sehat nggak sih untuk diterusin dalam sebuah kerjasama? atau gue aja yang kebanyakan nuntut.

Bukan sekali dua kali atau tiga kali. Sering dan gue capek sampai yang udahlah, terserah. Kayaknya emang gue udah nggak dianggap lagi. Jadi gue legowo dan nrimo.

Gue nggak tahu yang kemaren itu apakah puncak atau enggak. Tapi, gue bener-bener capek dan nyaris pingsan kalo-kalo nggak ingat besok paginya gue harus ada di kota orang untuk kerjaan. Kita ketemu disituasi dia yang sedang kerja dan gue nyamperin ke tempat kerja dia karena gue ada perlu sama orang yang dia ajak kerja.

Gue ketemu dia dan gue emang diem nggak nyapa. Karena dia ya hanya lewat gitu aja. Beberapa kali papasan tapi ya tetep diem aja, gue nggak ada niatan sama sekali diemin dia atau anggap dia nggak ada. Dia lagi sibuk dengan HP dan pekerjaanya gue liat. Jadi gue biarkan untuk bersibuk ria dan gue nggak nyapa.

Sampai dia akhirnya bersuara di depan banyak teman-teman kerja which is itu teman-teman se-circle kita dan kita saling kenal. Yang dia suarakan tentang kenapa gue nggak nyapa











You May Also Like

0 komentar