In catatan isul fiksi

Super Ego part 6





***
Gue sedang menikmati pemandangan semarang bawah di suatu café di daerah siranda. Semarang bagian atas, jalanan padat karena masih jam pulang kerja. Tapi nggak macet parah kayak yang sering gue lihat di Jakarta. Macet disini masih sangat aman. Gue disini bersama Disa, sengaja jemput dia yang habis ketemu clien di sekitaran Banyumanik. Masih daerah Semarang daerah atas, kemudian mampir disini. Seven degrees.
            “ Besok berangkat bareng? “ gue baru saja menghabiskan ribs gue.
Disa berhenti mengambil botol air putihnya, mengerutkan dahi menatap gue.
            “ Besok gue ada ketemu sama pak Teddy di kantor loe.” Gue menjelaskan.
Dia melanjutkan mengambil botol air putihnya kemudiam menuangkan ke dalam gelas dan meminumnya.
            “ Mobil gue sudah selesai kayaknya besok, bisa ke kantor sendiri kok.”
Penolakan lagi. Dia emang sengaja narik ulur apa giaman sih, susah banget. Ini aja mau dijemput setelah gue paksa dan dengan alasan lain-lainnya. Udah satu bulan lebih dan nggak ada perkembangan apa-apa gue sama dia.
            “ Lagian loe mau ke kantor gue jam delapan? Pak Teddy aja paling cepet sampe kantor jam sembilanan. Terus elu mau nunggu disana?” lanjutnya.
            “ Nunggunya bisa ditemenin sama elu kan.”
            “ Besok gue ada meeting pagi sama team dulu. Loe bukan laki-laki kurang kerjaan kan, nganter gue sana sini nungguin jam meeting sama pak teddy segala. ”
Ya kan namanya juga usaha Dis, pengen deket sama elu.  
“ Apa yang loe mau?” dia langsung menatap gue. Dalam. Sialan gue jadi tiba-tiba gugup. Persisi bocah ABG yang ditatap gebetanya. Gue benci kalau dia udah natap gue gini, bikin gue langsung ciut.
“ Maksut loe?” kenapa dia tiba-tiba nanya itu?
“ Nawarin ngantar ke kantor, jemput kerja, ngajak makan siang, nanya ini itu. Gue tahu loe bukan orang sembarangan yang bisa kapan aja nawarin perempuan buat nganter jemput. Gue juga tahu loe bahkan batalin meeting intern keuangan buat jemput gue hari ini. Gue bukan ke GR an tapi kita sudah dewasa kan.
Krek. Kalau kebanyak perempuan akan menikmati proses pendekatan receh macam ini dan memilih menunggu pihak laki-laki yang bergerak memberi kejelasan maksutnya melakukan pendekatan, dia beda.  
“ Gue tertarik sama loe.” Gue hadapi dengan gantle juga.
“ Terus?” tatapanya nggak berubah sedikit pun. Tatapan macam itu ampuh banget buat hancurin lawan bicara loe buat nuntut kejujuran. Sialan. Dia benar-benar tenang dan tegas. Sikapnya elegan banget.
“ Gue pengen kenal loe lebih jauh. Makanya gue selalu nyari kesempatan buat mengenal lo”
Dia tersenyumm, santai. Tenang. Gue yang sekarang malah tegang. Kampret.
“ Setelah loe kenal gue lebih jauh, Loe mau ngapain?”
“ Setidaknya biarin dulu gue dekat sama elu.”
            “ Gue bukan bahan percobaan pak Devan.”
            “ Gue serius kali ini.”
            “ Bapak bukan tipikal yang suka dengan keseriusan.” Jadi, apa selama ini dia juga berusaha mempelajari gua? Dia bisa baca salah satu karakter gue. Iya, gue masih belum suka dengan keseriusan . its mean dalam hal berhubungan soal perasaan.
            “ Saya harap bapak menghargai hubungan kerja kita.” Tambahnya.
            “ Berhenti bicara formal sama gue.” Cara berdebat dia elegan banget. Dia hanya menunjukan emosinya melalui kalimat formal yang dia tahu bikin gue bête.
Dan percapakan ini mulai atos sepertinya.  Gue baru mau meyakinkan dia sekali lagi saat tiba-tiba terdengar bunyi handphone memecah percakapan ini. Dia mengambil handbag nya yang ditaroh di kursi sebelah kemudian meraih benda kecil berisik itu.
            “ Ya bu, masih dikantor bentar lagi balik. Kenapa?”
             
            “ Oh, enggak. Nggak apa, kenapa bu. Nanti Disa ambil biar tidur sama Disa malam ini ya.”
            “ ..”
            “ APa?”
seketika wajahnya berubah panic. Dia kenapa?
            “ Oh baik, Disa kesana sekarang bu.” Setelah dia meyelesaikan obrolanya di handpohe dia langsung meraih handbagnya dan berdiri, sepertinya mau pergi. Lupa masih ada gue di sini? Sebelum dia benar-benar melangkahkan kakinya gue tarik pergelangan tangannya halus.
            “ Mau kemana?”
Ekspresinya menunjukan kalau dia baru sadar ada manusia selain dirinya yang tadi habis berdebat dengannya..   
            “ Buru-buru, gue mau ke klinik.”
            “ Ada yang saki? Siapa? Nyokap loe?” tadi dia beberapa kali memanggil ibu.
Dia menggeleng, wajahnya nampak bingung.       
            Gue antar.” Gue langsung berdiri sambil meraih kunci mobil yang tergeletak sembarangan di atas meja dengan piring-piring kosong sisa makan kami.
            “ Nggak usah gue bisa sendiri. Loe balik apartemen aja.”
Gue perkuat genggaman gue dipergelangannya.
            “ JAngan bikin gue jadi laki-laki cemen yang abis jemput kemudian biarin perempuanya naik taksi sendiri.”
            “Loe gentle Devan.  Gue yang nolak buat Loe anterin.” Kalimatnya penuh dengan tekanan. Bener-bener ini perempuan.
            “ Dis Please. Cuman ganterin nggak akan bikin makna apapun kan.” Gue memasang tampang semelas mungkin. Kenapa gue ngotot banget pengen nganterin ini perempuan kemana-mana padahal gue bukan sopir go car. Gue cuman pengen nyari waktu bisa barengan sama dia. Rasanya tenang dan nyaman sama dia. Tapi Kalau diajak keluar susah, seengaknya sekarang ini gue jadi tukang antar dulu nggak papa.  Dia menatap mata gue lagi, dalam. Kali ini dia pasti tahu gue salting, sialan.
            “ Oke, anggap ini juga salah satu yang perlu loe ketahui tentang gue. Setelah ini, pikirkan kembali rasa tertarik elu ke gue.” Dia memberikan penekanan pada kata tertarik sambil mengibaskan tanganya kemudian melenggang pergi. Gue mengabil dompet yang tergeletak di atas meja, meraih tiga lembaran pecahan seratur ribu dan meletakanya di meja kemudian menyusul di belakangnya. Dia yang mau ditumpangin kenapa dia yang galak gini.
“ Siapa sakit?” gue membuka obrolan lagi setelah beberapa lama perjalanan di mobil saling diam. Dia sibuk dengan handphone, mungkin berkomunkasi sama yang tadi menelfonnya. Wajah dia masih menunjukan kecemasan.
“ Cukup sampai di Klinik dulu, nanti loe juga tahu.” Jawabnya. Galak bener. Setelah itu perjalanan menuju klinik nggak ada obrolan lagi mobil kecuali perintah dia yang mengarahkan ke mana laju mobilnya.
                                                                             ***

            “ Mama.” Panggil seorang Gadis perempuan berlari ke arah Disa begitu kita sudah sampai di klinik. Dia kemudian menyambut anak itu, dia bembungkuk memeluk anak itu.
Dia manggil apa tadi? Mama? Eh,
            “ Kok bisa sih dek, mainya nggak hati-hati ya?” Disa melepaskan pelukanya kemudian memperhatikan anak perempuan itu. Ada perban membungkus kepala gadis itu. Disa mengusapnya beberapa kali disana.
            “ Ada lagi yang sakit?”
            “ Enggak ma. Ini aja.”
Disa membawa gadis kecil itu duduk di kursi yang sepertinya untuk kursi tunggu. Gue mengikuti gerek mereka dan duduk di sebelah Disa. Gue masih mencerna situasi apa ini. Disa, mama? Ini anaknya Disa? Damn!! Dia udah punya anak? Dia bini orang? Ya Tuhan.
“ Mama sama siapa?” Tanya anak perempuan yang tengah dipangku Disa menoleh ke arah gue. Gue agak gugup, senyum canggung seadanya.
“ Hai, “ Sapa gue.
“ Ini temen kerja mama, namanya om Devan. Salim sama om Devan.”
Kemudian anak itu mengulurkan tangannya  gue.
            “ Hai cantik, nama kamu siapa?” balas gue sambil menyambut tangan anak itu.
            “ Kanaya.” Balasnya singkat kemudian berpaling dan menatap Disa.
            “ Ma,” Panggil Disa pada sosok perempuan paruh baya yang baru saja datang dan ikut duduk bersama kita.
            “ Ganggu kerjaan kamu ya? Maaf, tadi mama panik banget. Untung sih nggak ada luka yang parah.”  Balas perempuan tersebut yang kemudian mengangguk memberikan salam begitu tahu keberadaan gue di sini.
            “ Ini salah satu bos Disa ma, pemilik gedung apartemen yang Disa tempati sekarang.” Disa memperkenalkan gue.
            “ Devan tante.” Gue mengulurkan tangan untuk menyalami mamanya Disa.
            “ Tante Hera, mamanya Disa.” Sambut tante Hera.
            “ Tadi Disa lagi meeting sama Pak Devan, dan karena nggak bawa mobil jadi ke sini sama Pak Devan ma.” Jelas Disa lagi.
            “ Makasih pak Devan, maaf merepotkan. “ tambah tante Hera lagi.
            “ Yok Naya ikut nenek dulu, mama masih ada kerjaan bentar.” Tante Hera mengambil Naya dari pangkuan Disa tanpa perlawanan.
            “ Malam ini mama tidur sama Naya kan?” rengek Naya nggak rela diambil neneknya. Anak itu, emang miirp Disa banget. Mata terutama, sipit-sipit tapi tajem mengintimidasi.
            “ Iya sayang, nanti bobok sama Mama ya.”
Suasana hening langsung menyelimuti gue dan Disa begitu tante Hera pergi membawa Naya. Gue nggak tahu kudu ngomong gimana, sedangkan Disa juga ngga mau ngomong apa-apa. Sampai akhirnya dia membuka obrolan itu lagi.
            “ Pasti banyak yang pengen loe tanyan ke gue.”
Iya banyak banget sampe gue bingung kudu tanya yang mana dulu, tapi jujur gue nggak sanggup buat nanyain itu. Gue cuman bisa menghela nafas panjang.
            “ Loe nyesel?” tanya Disa lagi.
            “ Loe nggak pernah ngomong soal ini.” Gue tatap dia.
            “ Loe nggak pernah nanya.”
            “ Loe single Disa, itu aja. Buat gue cukup dan biarin perasaan gue mengalir gitu aja sama loe.”
            “ Loe balik sekarang aja ya, kita obrolin ini nanti kalo udah sama-sama dingin.”
            “ Aku nggak suka biarin masalah nggantung gitu aja.”
            “ Please Dev, gue masih shock sama  keadaan Naya.” Dia bangkit dari duduknya. Gue pun mengikuti.
            “ Dan gue juga masih shock dengan keadaan loe yang...” gue berenti nggak mneruskan kalimat itu. Entahlah gue juga bingung mau lanjutin apa, tapi...
            “ Gue punya anak? “
            “ Bukan itu Disa. Maksut gue ..”gue duduk kembali dan nggak nyelesein kalimat gue lagi. Dia single kan? Dia mengaku single gue nggak salah denger. Berati dia bukan istri orang, atauuu...
            “ Please gue butuh kepastian. Tentang loe udah pernah nikah…atau masih dalam hubungan pernikahan?” Tanya gue hati-hati.
            Gue sudah punya anak, tapi nggak punya suami. Kalau itu yang loe maksut untuk mengetahui status gue yang sekarang.”
Gue terdiam. Lega. Lega banget. Seketika gue raih tangan Disa dan menggenggamnya kuat.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Popular Posts