In catatan isul fiksi

Super Ego part 5

Yang baru baca, biar nggak bingung ceritanya bisa cek Part I - 4 di siniya

Part 1 

Part 2

Part 3

Part 4

=================================================

Gue tertegun melihat interaksi Disa dengan anak-anak penghuni panti ini. Senatural itu dan menyenangkan, anak-anak di sini juga tampak mengenal Disa dengan baik. Mereka tengah bermain di lapangan kecil yang berada di belakang panti. Gue duduk di teras belakang mengamati. Tadi selesai makan siang gue ada jadwal kunjungan ke proyek  R.O yang di Pandanaran, karena pak Teddy nggak bisa nemenin makanya diwakilkan Disa sebagai kepala team arsitek dan ada satu lagi kepala Proyek gue lupa namanya. Laki, jadi nggak perlu gue ingat.  Setidaknya sementara ini, nanti kalau sering kunjungan kesana gue kudu apalin namaya.

Setelah keliling proyek kita sempat meeting sebentar bahas progresnya dan selesai sebelum jam empat. Karena Disa udah nggak ada kerjaan lagi dikantor, dia juga nggak bawa mobil karena gue sengaja jemput dia di kantornya dulu biar ke proyek bareng jadi akhirnya gue antar dia pulang sekalian. Ah nggak nganter juga sih, arah balik kita kan searah. Satu tower satu lantai juga. Sebelum sampai gedung apartemen kita sempat makan di warung tenda pinggir jalan, dia ngajak makan tahu gimbal salah satu makanan khas Semarang. Semacam gado-gado tapi ini nggak pakai banyak sayur, ada lontong nya, pakai tauge pakai tahu goreng pakai irisan kol mentah terus disiram saos kacang. Ditengah kita makan itu, ada anak kecil yang lagi dipalak sama gerombolan preman. Gue yang emang nggak suka lihat anak kecil dipukulin memutuskan terlibat dalam pertengkaran itu. 

Singkat cerita Disa memanggil polisi, gerombolan itu dibawa polisi dan anak kecil itu diambil Disa bersama gue kemudian berakhir di sini. Semacam panti asuhan kalau gue bilang. Disa belum menjelaskan apapun setelah tadi sempat ngobatin luka gue bekas pukulan preman tadi. Sekarang dia berjalan ke arah gue sambil menggendong anak kecil perempuan.

            “ Perlu ke rumah sakit?” dia duduk di sebelah gue, bangku taman yang terbuat dari kayu yang ada di samping lapangan.
            “ Siapa?”
            “ Elo. Luka nya.”
Gue tertawa kecil mendengarnya. Elaah luka kecil gini, gue kirain.
            “ Nggak lah, cuman pecah dimulut aja biasa.”
            “ Mata loe bengkak banget.” Gue suka ekspresi dia pas ngucapin itu, ekspresi Nampak khawatir. Walaupun sedikit, bisa bikin gue GR karena dia care sama gue.
            “ Dikompres nanti juga kemps kok.”
            “ Yaudah bentar.” Dia berdiri kembali dan malah pergi ninggalin gue. Gue mau nyusul nggak enak, di dalam ada beberapa pengurus panti. Yaudah gue pasrah nunggu Disa dan nggak lama setelahnya gue bersukur dia balik lagi dengan baskom dan handuk kecil. Dia duduk kembali di sebelah gue dan mulai membasahi handuk itu kedalam baskom.
            “ Pegang ini.” Dia ngasih handuk yang sudah basah dengan air hangat ke gue, gue terima dan ngerti maksutnya. Gue tempelin ke mata kanan gue, gue meringis nahan nyeri begitu handuk itu nyentuh pelipis.
            “ Sakit banget?” dia ikutan meringis. Gue jawab dengan gelengan.
            “ Loe deket banget sama anak-anak sini.”
            “ Iya gue sering kesini.”
Gue mengernyit. “ Dengan kesibukan loe yang bahkan sampe malam masih dikantor dan weekend masih ngecek proyek?” gue bertanya nggak percaya. Dia nggak cuman cantik luarnya aja serius, dalem nya juga. Dia masih punya kepedulian dengan hal-hal semacam ini.
            “ Sekarang sekarang ini emang udah mulai jarang, dulu sebelum kerjaan segila ini gue bisa hampir tiap balik kerja ke sini.”
Dia mengambil handuk dari tangan gue dan nyelupin lagi ke baskom, memerasnya kemudian ngasih lagi ke gue.
            “ Gue pernah tinggal di sini beberapa tahun. Jadi ke sini udah kayak balik ke rumah sendiri.”
            “ Oh ya? Elu?” dia pernah tinggal di panti ini? Gue nggak percaya  kalau dia alumni anak panti. Eh sory, perawakan dia bukan seseorang yang mengalami kesulitan buat tinggal di panti.
Dia tersenyum, lembut banget senyumnya bikin gue lupa sesaat sama nyeri di mata dan bibir.
          “ Waktu pertama kali datang ke Semarang dan gue nggak punya tempat tinggal gue ketemu sama pemilik panti ini. Dan akhirnya ngijinin gue buat tinggal disini.”
            “ Loh emang loe dari mana sebelumnya?”  Itu tanda kalau cewek yang loe deketin mulai nyicil tentang dirinya sama loe berati dia mulai bisa membuka diri sama loe. Jadi terusin acara intrugasinya biar bisa tahu tentang dia lebih banyak.
            “ Dari Jakarta.”
            “ Kenapa bisa jadi di Semarang?”
            “ Panjang, belum saatnya loe tau.”
            “ Oke gue nunggu waktu buat bisa tahu segalanya.”
Dia cuman tersenyum sambil natap gue dengan tatapan khas nya dia. Salting lagi gue sialan cuman ditatap gitu. Hey, gue udah lulus ya kalau cuman dibandrol predikat playboy. Ini kenapa ditatap segitu aja udah keder gini gue.
            “ Kenapa arsitek?” gue berusaha ngalihin guggup gue dengan nanyain dia sesuatu yang langsung terlintas di otak gue.
            “ Karena orang tua gue pengen gue jadi arsitek.”
            “ Dan loe cuman nurut aja? Loe nggak berusaha jadi apa yang loe mau?”
            “ Gue udah gagal dan melakukan kesalahan fatal, satu-satunya penebusan dosa gue kepada orang tua gue ya jadi apa yang orang tua gue mau. Meskipun gue nggak yakin kalau mereka tahu gue sekarang jadi apa yang mereka harapkan dulu.”
Gue mengusap bahunya pelan, berusaaha memberikan dukungan. Pasti berat kehilangan orang tua dan tinggal di pantu asuhan hingga menjadi arsitek seperti sekarang. Dia perempuan luar biasa.
            “ Mereka pasti bangga sekarang di surga.”
            “ Dia masih hidup di dunia.”
Apa dia bilang? Masih hidup di dunia? kok? Oke ini mulai rumit sekarang. “ kalau mereka masih hidup kenapa kamu pindah ke kota ini dan tinggal disini?”
            “ Ayo pulang, “ dia bangkit berdiri.
            “ belum boleh tau ya?”
            “ Lihat nanti.”
Sepanjang perjalanan dia menceritakan tentang panti. Dia tinggal disana 6 tahun dan setelah bisa bekerja dia memilih pindah dan menyewa kos-kosan. Sebenarnya Itu bukan panti tapi rumah singgah, buat siapa saja yang tidak memiliki tempat tinggal. Penghuninya memang kebanyakan anak kecil yang ditemukan di jalananan. Disa masih terus menyempatkan untuk datang ke sana sekedar mecengkrama dengan penghuni lama.

Kita tiba di gedung apartemen pukul delapan malam, dan langsung laper lagi karna tadi belum sempet ngabisin makanan gue. Tahu gimbal, kayaknya bakal masuk daftar makanan favorit gue di Semarang.  Lidah gue murahan banget pokoknya kalau soal makanan, sama murahannya waktu Disa nawarin buat bikinin gue makanan. Jadi di sinilah gue, masih di apartemen Disa buat numpang minta makan.
            “ Besok ada acara ke mana Dis?” tanya gue sambil naruh piring terakhir yang selesai gue keringin pakai lap ke rak. Gue bantu Disa beresin meja dan mencuci piringnya setelah selesai makan tadi. Mau langsung balik nggak enak juga, kayaknya nggak tahu diri banget ke sini minta makan doang abis itu nggak bantu apa-apa. Lagi juga lumayanlah bisa sambil lama-lama di sini sama dia.
            “ Kenapa?” balasnya sambil ngasih secangkir coklat panas. Kemudian dia menyedu teh nya dan berjalan ke ruang tengah. Gue ngekor di belakangnya.
            “ Kalo free, temenin jalan-jalan. “
            “ Besok gue kerja.” Dia meraih remote TV yang tergeletak di meja kopi dan mulai sibuk mencari tontonan. Gue ikut gabung duduk di sebelahnya.
            “ Weekend masih kerja? “ besok Sabtu loh, masih kerja juga? Apa cuman alasan untuk menolak ajakan gue?
            “ Dua bulan terakhir ini emang lagi crowded banget kantor. Banyak proyek.”
Dia menyesap kembali teh nya sambil menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Kayaknya udah nemu tontonan yang dicari, dia keliatan asik mantengin TV. Gue juga ikut bersandar pada sofa akhirnya.
            “ Kalau Minggu?”
            “ Belum tahu, kalau besok bisa nyelesein deadline mungkin Minggu free. Mau jalan ke mana emang?” tatapanya nggak mau nglirik gue barang sedikit. Lempeng aja ke arah TV.
“ Belum tahu juga, pokoknya deket-deket sini aja. Gue belum ke mana-mana selama di Semarang ini.”
“ Hemmm..” dianya sambil manggut-manggut. Gue nunggu dia ngomong apa lagi gitu kek, tapi sampe sepuluh menit setelahnya nggak ada kalimat apapun yang keluar dari mulutnya. Gitu aja nanggepinya?
Gue duduk sedikit serong dan milih buat merhatiin dia nonton TV aja. Gue nggak tahu serial apa yang sedang ditontonnya, drama luar gitu. Nggak menarik buat gue, lebih menarik merhatiin wajah dia. Tenang.
            “ Dev.” Panggilnya tanpa berpaling.
            “ Ya.” Jawab gue antusias.
            “ Mau balik ke flat loe jam berapa?”
Maksutnya dia ngusir gue?
            “ Nggak tahu, gue masih pengen di sini.” Jawab gue tanpa tahu diri.
            “ Mau ngapain lagi?”
            “ Pengen ngobrol sama loe.” masih tetep nggak tahu diri.
Dia menoleh akhirnya. “ Ngobrolin apa?”
            “ Nggak tahu, ngobrolin apa aja pokoknya. Asal sama loe.”
Dia nggak menjawab, cuman menatap gue. Kali ini bukan tatapan biasanya yang berhasil bikin gue selalu salting. Tatapin ini lebih tenang dan lembut, nggak tajam menantang. Gue juga ngga bersuara lagi, berusaha setenang dia balik menatapnya.  Tatapan kita bertemu, gue lebiih mendekat ke arahnya. Ke arah bibir lebih tepatnya, hembusan nafasnya udah berasa menyapu wajah gue. Dia tahu apa yang bakal gue lakuin, gue yakin. Itu kenapa gue memberinya waktu buat bereaksi dengan apa yang bakal gue lakukan ini. Hebatnya dia cuman berdiam diri dan tenang, gue jadi bingung gue lanjutin apa enggak. Sialan, baru kali ini gue dilemma cuman buat nyium perempuan.
            “ Kenapa?” dia masih tidak berubah dari tempatnya.
            “ Gue pengen nyium loe.”
            “ Terus kenapa berhenti?”
            “ Jadi gue boleh nyium elu?”
Dia malah menjauhkan wajahnya dari wajah gue dan kembali menatap lainya. Gue menarik diri akhirnya.
            “ Kenapa?” dia bertanya lagi.
            “ kenapa apa?”
            “ kenapa loe pengen nyium gue?” dia menoleh menatap gue lagi. Sialan demi setan dikepala gue, tatapan itu bikin ciut nyali gue. Tatapan khas dia balik lagi.
            “ Pengen nyium aja.” Jawaban paling tolot untuk pria seusia gue kan? oke gue emang tolol.
            “ Bukan karna nafsu?” dia masih menatap mata gue, tajam.
            “ Loe liat nafsu di mata gue sekarang?”
Dan emang bener, gue nggak merasakan sesuatu yang menggebu dalam hasrat gue buat melakukan sesuatu yang lebih dari ciuaman denganya. Padahal gue laki-laki tulen yang hanya dengan liat iklan lollipop aja udah berdiri setengah tiang barang gue.
            “ Kalau gue nafsu gue nggak akan sekedar nyium loe, yang akhirnya nggak gue lakuin juga. “
Dia cuman tersenyum kemudian pergi menyisakan gue yang nampak bego.Dia pergi ke bak cuci kemudian mencuci gelas bekas teh nya. Gue masih duduk di ruang tengah berusaha nenangin diri karena ternyata tubuh gue yang lain bereaksi. Lima menit cukup buat gue kemudian menyusul dia buat nyuci gelas gue juga.
            “ Sory Dis.”
            “ Untuk apa?”
            “ Karena pengen nyium loe.”
Dia malah tersenyum yang entah bikin gue jadi lega.
            “ Its okey. Nggak loe lakuin juga kan niat nyiumnya. Makasih karna udah bisa nahan diri.” Dia mengambil gelas gue dan sekalian mencucinya.
            “ Jadi loe mau balik ke flat sekarang?”
            “ Loe ngusir gue?”
Dia mengangguk.

****

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Popular Posts