In

metode penelitian komunikasi kualitatif

Menanggapi pemberitaan tentang " digilir tiga pacarnya, siswi SMK di Pekan Baru kejang-kejang" yang merupakan juga tugas wajib dari dosen mata kuliah metode penelitian komumikasi kualitatif saya maka dalam blog ini saya tulis analisa saya tentang pemberitaan tersebut menggunakan materi framming dalam MPK kualitatif yang diajarkan dosen saya pada pertemuan sebelumnya.

Well, kita mulai ya. Bukan berusaha menjadi analis atau sok Pinter yg tiba2 menganalisa suatu perkara hukum tapi ya belajar memgkritisi dan analisa pemberitaan yang disampaikan media kepada khalayak. Dari apa yang sudah saya baca tentang materi framming dan contoh kasus yang diberikan yakni pemberitaan tentang seorang siswi di Pekan Baru yang kejang setelah digilir 3 pacarnya tersebut menurut saya media yang menuliskan berita tersebut menggunakan metode condensing symbol yang merupakan percermatan terhadap interaksi simbolik yaitu framing device exemplars dimana metode tersebut mengemas fakta tertentu secara mendalam agar memiliki bobot makna lebih baik untuk dijadikan rujukan. Posisinya sebagai pelengkap bingkai inti dalam kesatuan berita untuk membenarkan perspektif. Jadi berita tersebut dibuat untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya Dan membenarkan pemikiran khalayak yang membacanya tentang kejadian Yang sebenarnya.
Jika dijelaskan menurut struktur reasoning devices dapat says analisa menggunakan materi struktur reasoning devices roots yang berati pembenaran isu dengan menghubungkan suatu objek atau lebih yang dianggap menjadi sebab timbulnya atau terjadinya half Latin yang bertujuan untuk membenarkan penyimpulan fakta berdasarkan hubungan sebab akibat yang digambarkan. Jadi berita tersebut menjelaskan bagaimana periatiwa teraebut bisa terjadi. Kanapa si korban kabur dari rumah dan bertemu dengan satu persatu laki-laki tersebut dan terjadilah peristiwa salah paham antara orang tea korban dengan tertuduh yang sebenarnya tidak tau menahu tentanh peristiwa kaburnya si korban. Berita tersebut berusaha menjelaskan bahwa seolah olah pelaku tidak sepenuhnya bisa disalahkan karena yang pertama hubungan badan tersebut terjadi karena sama sama suka dan saling menikmati. Yang ke dua bahwa pelaku sama sekali teak tau menau soal kaburnya korban.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Popular Posts